JAMBU, KAB. SEMARANG – Mahasiswa KKN Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (Undaris) menunjukkan komitmen nyata dalam pengabdian masyarakat melalui penyelenggaraan Seminar Mitigasi Bencana. Mengangkat tema “Sosialisasi Penanaman Pohon untuk Mitigasi Bencana”, acara ini digelar pada Sabtu (24/01/2026) di Balai Desa Gemawang, Kecamatan Jambu.
Kegiatan ini merupakan hasil sinergi apik antara Kelompok 3 KKN Internal Kampus (Kelas Karyawan) yang dibimbing oleh Khoirudin Fakhri, ST., MT., dan Kelompok KKN Reguler Desa Gemawang yang dibimbing oleh Tenardhy Aryarama Wijaya, S.ST., M.Eng. Keduanya merupakan dosen dari Program Studi Teknik Sipil Undaris.
Hadir sebagai narasumber utama, Antonius Waluyo, SP dari Cabang Wilayah III Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah. Di hadapan 46 peserta yang terdiri dari Perangkat Desa, ibu-ibu PKK, Karang Taruna, hingga Kepala Dusun, Antonius membedah potensi kerawanan bencana di Desa Gemawang.
“Dengan topografi lereng, potensi bencana tertinggi di sini adalah gerakan tanah atau tanah longsor. Tindakan preventif yang paling efektif adalah penanaman vegetasi seperti rumput vetiver dan tanaman keras lainnya untuk mencegah erosi yang menjadi pemicu awal longsor,” jelas Antonius.
Manajemen Air: Kunci Mitigasi Geoteknik
Dalam sesi diskusi, seorang warga, Bapak Supri, menanyakan tantangan mitigasi di kawasan pemukiman yang padat dengan pola pikir masyarakat yang beragam. Menanggapi hal tersebut, Kaprodi Teknik Sipil Undaris, Ir. Agung Hari Wibowo, SIP., ST., MT., yang hadir mengawal langsung kegiatan pengabdian ini, memberikan tinjauan dari sisi Geoteknik.
“Kunci utama mitigasi longsor adalah manajemen aliran air. Air yang tidak terkelola akan menambah beban massa tanah dan mengurangi kohesi atau daya rekat antar butir tanah. Itulah titik awal terjadinya longsor. Maka, peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola drainase dan aliran air di wilayah atas sangat krusial,” terang Ir. Agung.

Solusi Teknis untuk Gerusan Sungai
Diskusi berkembang menjadi lebih dinamis saat Kepala Desa Gemawang, Bapak Mahmudi, menyampaikan keluhan warga terkait ancaman longsor akibat gerusan aliran Sungai Elo. Karakteristik sungai pegunungan yang berbentuk “V” dengan kemiringan tajam memicu kecepatan arus tinggi yang mengikis dinding sungai.
Merespons hal tersebut, Tenardhy Aryarama Wijaya menawarkan kolaborasi teknis antara Teknik Sipil Undaris dan warga untuk melakukan kajian penanganan. “Kami mengusulkan konsep pembangunan groundsill menggunakan struktur bronjong batu kali. Tujuannya untuk mengurangi kemiringan dasar sungai sehingga kecepatan arus berkurang,” ungkapnya.
Menariknya, usulan ini disambut antusias oleh warga karena struktur groundsill nantinya berpotensi menjadi “spot mancing” yang dapat menggerakkan ekonomi lokal. Bapak Waluyo dari DLHK Jateng pun mendukung penuh rencana ini dengan memberikan informasi peluang pembiayaan dari dinas terkait, asalkan didukung dengan proposal dan kajian teknis yang matang.
Aksi Nyata Berkelanjutan
Sebagai tindak lanjut, DLHK Provinsi Jawa Tengah menawarkan penyediaan berbagai jenis bibit tanaman secara gratis bagi warga Gemawang sebagai bagian dari pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo.
Agung menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata implementasi Good Governance. “Sinergi antara masyarakat yang memiliki rasa memiliki (sense of belonging), akademisi dengan kajian ilmiahnya, serta pemerintah sebagai penyedia kebijakan dan fasilitas, adalah kunci sukses pembangunan infrastruktur desa yang berkelanjutan,” tutupnya.
