UNGARAN – Guna meningkatkan daya saing lulusan di dunia kerja, Program Studi Teknik Sipil Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (Undaris) menyelenggarakan pelatihan Conus Penetration Test (CPT) atau uji sondir pada Minggu (07/02/2025). Pelatihan ini bukan sekadar simulasi, melainkan bagian dari skema penguatan kompetensi mahasiswa melalui sertifikat pendamping ijazah.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB ini menghadirkan instruktur senior dari Politeknik Negeri Semarang (Polines), Bapak Tulus Setiawan. Sebanyak 17 mahasiswa lintas semester (Semester I, III, dan V) mengikuti rangkaian pelatihan dengan antusias, didampingi oleh Kaprodi Teknik Sipil, Ir. Agung Hari Wibowo, SIP., ST., MT., dan dosen pendamping Tenardhy Aryarama Wijaya, S.ST., M.Eng.
Ketua Program Studi Teknik Sipil Undaris, Agung Hari Wibowo, menjelaskan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam pelatihan ini bersifat sukarela berdasarkan minat pengembangan diri. “Kami tidak mewajibkan, namun sangat menganjurkan bagi mereka yang merasa butuh untuk pengembangan diri. Kami ingin mahasiswa mulai mengenali potensi dan kebutuhan kompetensi mereka. Ini adalah soal kesadaran (awareness) akan kualitas diri di masa depan,” jelas Agung.

Rangkaian pelatihan dimulai dengan sesi kelas di Laboratorium Mekanika Tanah dan Bahan Bangunan untuk pengenalan alat secara detail, mulai dari bikonus, piston, hingga sistem hidroliknya. Mahasiswa kemudian terjun langsung ke lokasi uji di samping Ruang Kuliah Magister Hukum Undaris untuk mempraktikkan 9 tahapan teknis, mulai dari pemasangan angkur, penetrasi konus, hingga pengolahan data nilai cone resistance (qc) dan friction ratio (FR).
Hal yang istimewa dari pelatihan ini adalah sistem sertifikasinya. Tenardhy Aryarama Wijaya, S.ST., M.Eng., menekankan pentingnya asesmen dalam pemberian sertifikat. “Sertifikat yang akan diterima mahasiswa bukan sekadar tanda kehadiran, melainkan sertifikat kompetensi yang diberikan berdasarkan hasil asesmen. Hal ini penting agar sertifikat tersebut benar-benar memiliki bobot saat digunakan sebagai pendamping ijazah (SKPI) nanti,” ungkap Tenardhy.

Acara ditutup dengan sesi diskusi intensif mengenai penyelesaian masalah (troubleshooting) di lapangan, memberikan gambaran nyata bagi mahasiswa tentang tantangan dunia konstruksi yang sesungguhnya.